Selasa, 06 Desember 2011

tes kebugaran jasmani

A.   JUDUL PENELITIAN
TES KEBUGARAN JASMANI INDONESIA SISWA-SISWI KOTA PONTIANAK DAN KABUPATEN PONTIANAK KALIMANTAN BARAT TAHUN 2011
B.   LATAR BELAKANG
Aktivitas fisik, yang ternyata sangat berpengaruh terhadap tingkat kesegaran jasmani seseorang, merupakan bagian yang kompleks dari kebiasaan hidup manusia. Kebiasaan tersebut sangat tergantung pada beberapa faktor seperti jenis pekerjaan, kepribadian, dan penggunaan waaktu luang (Andersen, 1978). Mienurut Mar’at (1982), jika seseorang memiliki sikap positif terhadap aktivitas fisik, ia akan cenderung turut aktif melakukan, sebaliknya jika ia memiliki sikap negatif, dengan sendirinya akan cenderung untuk menolak. Kesegaran jasmani atau lebih dikenal dengan istilah physical fitness merupakan hal yang selalu didambakan oleh setiap individu maupun setiap bangsa. Dalam abad modern ini setiap bangsa menghadapi tantangan untuk meningkatkan dan memelihara kesegaran jasmani waraga negaranya. Pengaruh kurang gerak telah dirasakan pula oleh Negara-negara berkembang (Suharto dkk, 1988). Sehubungan dengan itu perlu upaya memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat, serta upaya menciptakan iklim yang lebih baik mendorong masyarakat untuk berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam membina dan mengembangkan olahraga (Anon, 1988), agar tercapai kesegaran jasmani dan rohani setiap orang, yang akan menunjang pembangunan bangsa yang kuat secara fisik dan mental. Semakin jelas arti kesegaran jasmani apabila kita telaah dan tinjau sasaran dan tujuan tersebut di atas, karena setiap pekerjaan akan meningkat produktivitasnya dan meningkat hasilnya bila pelakunya mempunyai tingkat kesegaran jasmani yang tinggi. Seperti yang telah dikatakan oleh Getchell dan Marshall (1984); Astrand dan Rodahl (1986); Budiarso dkk (1992), dengan kesegaran jasmani yang baik, yang dapat dicapai oleh olahraga yang teratur, merupaka salah satu faktor yang diperlukan untuk meraih produktivitas kerja yang tinggi, karena mampu mengatasi beban kerja yang diberikan kepadanya Kebugaran jasmani, atau secara singkat disebut kebugaran, merupakan faktor utama bagi manusia  untuk dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari dengan baik. Pengukuran tingkat kebugaran perlu dilakukan terhadap peserta didik, karena upaya peningkatan dan pemeliharaan kebugaran jasmani secara sistematis akan lebih mudah dilakukan melalui sekolah. Peningkatan dan pemeliharaan khususnya bagi para peserta didik harus diupayakan agar mereka selalu siap melalukan aktivitasnya tanpa merasa kelelahan. Bagi perserta didik, kebugaran jasmani dapat meningkatkan prestasi belajar karena dengan kebugaran yang baik, mereka akan lebih siap menerima pelajaran dan akan menjadi generasi-generasi yang sehat, bugar., dan cerdas. Tingkat kebugaran jasmani peserta didik perlu diukur sebagai data evaluasi kondisi kebugaran peserta didik. Berdasarkan gambaran tingkat kebugaran tersebut maka dapat dilakukan upaya-upaya peningkatan yang terarah dan efektif. Pengukuran kebugaran jasmani peserta didik dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat Tes Kesagaran Jasmani Indonesia (TKJI) untuk memperoleh gambaran tingkat kebugaran jasmani yang terdiri dari lima aspek, yaitu: kekuatan otot, kecepatan, daya tahan otot, daya ledak otot, dan daya tahan jantung paru-paru.




C.   MASALAH PENELITIAN
1.  Pusat pengembangan Kualitas Jasmani sejak tahun 1986  melakukan     pengukuran kebugaran jasmani peserta didik setiap lima tahun, dimana hasilnya masih memprihatinkan.
2.     Data kebugaran jasmani peserta didik yang digunakan selama ini, merupakan hasil pengukuran yang dilakukan pada tahun 2005. Untuk itu perlu dilakukan pengukuran kebugaran jasmani yang terbaru untk mengetahui kondisi peserta didik pada saat ini.

D.   TUJUAN PENELITIAN
1.     Mengetahui tingkat kebugaran jasmani peserta didik Indonesia pada jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK.
2.     Melaksanakan pengukuran kebugaran jasmani peserta didik pada jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK.

E.   MANFAAT PENELITIAN
1.     Mendapatkan gambaran tingkat kebugaran jasmani peserta didik SD, SMP, SMA/SMK tahun 2011.
2.     Menjalin kerjasama dengan 17 Universitas yang memiliki Fakultas terkait Ilmu Keolahragaan untuk melakukan pengukuran kebugaran jasmani peserta didik di 17 provinsi.




F.    TINJAUAN PUSTAKA

A.   Kesegaran Jasmani
          Istilah kesegaran jasmani merupakan terjemahan istilah bahasa Inggris physical fitness. Selain itu ada juga yang menterjemahkan samapta jasmani (Anon, 1971 b), kemampuan jasmani (Radioputro, 1974), dan kesegaran fisik (Effendi, 1983). Walaupun telah diterjemahkan dengan istilah yang berbeda-beda, namun pada dasarnya mengandung arti yang sama yakni kemampuan fisik seseorang untuk melaksanakan tugasnya. Selanjutnya dalam tulisan ini digunakan istilah kesegaran jasmani yang sesuai dengan istilah yang digunakan dalam GBHN.
          Kata fitness artinya kemampuan dan kecocokan, sedangkan physical fitness artinya kesehatan jasmani (Echols dan Shadely, 1982). Fitness (kesegaran) merupakan perasaan segar yang dirasakan seseorang  dan mempunyai arti luas, yakni sebagai total fitness. Manusia itu terdiri dari jasmani dan rohani. Total fitness dimaksud sebagai kesegaran manusia menyeluruh, terdiri dari: kesegaran fisik, kesegaran mental, dan kesegaran sosial.
          Kesegaran jasmani selalu dikaitkan dengan kemampuan kerja, dan sampai sekarang istilah ini belum disepakati. Untuk menjawab pertanyaan: apakah kesegaran jasmani itu ? sampai sekarang jawaban yang diperoleh bermacam-macam.
          Para ahli antara lain menyatakan, bahwa physical fitness adalah kesegaran seseorang dalam melakukan tugas-tugas yang membutuhkan kekuatan atau usaha otot (Karpovich, 1959). Seseorang yang segar tidak mengalami perubahan yang berarti dalam kerja faalnya, dapat bertahan terhadap suatu kerja yang berat, dan bila dipaksakan masih dapat bertahan untuk beberapa waktu. Pemulihannya lebih cepat dibandingkan dengan yang tidak segar (Consolazio dkk. 1963; Morehouse dan Miller, 1953).

1.     Komponen-komponen Kesegaran Jasmani
          Menurut Cureton (1973) kesegaran jasmani adalah motor fitness (kesegaran motorik) dengan komponen-komponen sebagai berikut:
a.     Keseimbangan tubuh, yakni kemampuan individu untuk membuat keseimbangan yang bersumber dari control saraf otot (neuromuscular).
b.     Kelentukan, yaitu kemampuan individu untuk menggerakkan persendian-persendiannya.
c.      Kelincahan, yakni kemampuan untuk bereaksi secara tangkas dengan gerakan yang gesit dan terkendali.
d.     Kekuatan, yakni kemampuan tangan, kaki atau togok untuk menggunakan tenaga.
e.      Daya (power), yakni kapasitas tubuh untuk mengeluarkan sejumlah besar tenaga dalam suatu pengerahan kekuatan yang mendadak.
f.       Daya tahan, yaitu kualitas yang memungkinkan tubuh melangsungkan selama mungkin suatu usaha yang menggunakan otot dalam kondisi erobik.
          Menurut Sharkey (1979), kesegaran jasmani mempunyai dua komponen utama , yaitu kesegaran erobik (aerobic fitness) dan kesegaran otot (muscular fitness). Kesegaran erobik adalah kemampuan untuk mengambil, mengangkut, dan menggunakan oksigen. Kesegaran otot meliputi: kekuatan, daya tahan, dan kelentukan otot yang mempunyai manfaat utama dalam meningkatkan kemampuan penampilan gerak dalam kerja.
          Pendapat yang hampir sama dengan Sharkey mengenai komponen-komponen kesegaran jasmani telah dikemukakan oleh De Vries (Sitasi Singer, 1976) sebagai berikut: kesegaran jasmani terdiri dari dua komponen utama yaitu motor fitness dan physical working capacity (PWC). Motor fitness terdiri dari  elemen-elemen seperti: strength, endurance, speed, power, agility, flexibility, coordination, balance, and body control. Sedangkan physical working capacity  (kapasitas kerja fisik) terdiri dari elemen-elemen sebagai berikut: muscular strength, endurance and efficiency of cardiovascular dan respiratory.
          Menurut Hebbelinch (1984), kesegaran jasmani dikelompokkan dalam lima komponen utama, yaitu:
1.     Kekuatan otot:
a.     Kekuatan yang statis;
b.     Kekuatan ledak yang dinamis;
2.     Koordinasi:
a.     Koordinasi gereak halus;
b.     Koorndinasi gerak kasar;
3.     Bangun tubuh:
a.     Umur, jenis kelamin;
b.     Ukuran , bentuk, proporsi, komposisi;
c.      Tipe tubuh;
d.     Pertumbuhan, kematangan;
e.      Status gizi;
f.       Susunan kimiawi jaringan;
4.     Daya tahan;
a.     Daya tahan jantung, peredaran darah, dan pernapasan umum;
b.     Daya tahan otot setempat: statis dan dinamis;
5.     Kecepatan:
a.     Keseluruhan tubuh;
b.     Bagian dari tubuh.
          Komponen kesegaran jasmani yang dikemukakan oleh Larson dan Jacom (1951), berdasarkan penelitian yang dilakukan dalam rangka pembinaan fisik, terdiri dari 10 komponen, yakni:
1.     Resistensi terhadap penyakit;
2.     Kekuatan dan daya tahan otot;
3.     Daya tahan jantung, peredaran darah, dan pernapasan;
4.     Daya otot (muscular power);
5.     Kelentukan;
6.     Kecepatan;
7.     Kelincahan merubah arah;
8.     Koordinasi;
9.     Keseimbangan;
10.            Ketepatan.
          Kesegaran dibagi menjadi tiga tingkatan (Clarke, 1961 dan Baumgartner, 1975, Sitasi Sardjono dkk. 1992) ialah sebagai berikut:
1.     Kesegaran jasmani (physical fitness), terdiri atas tiga komponen, ialah:
a.     Kelentukan otot (muscular strength);
b.     Daya tahan otot (muscular endurance);
c.      Daya tahan jantung, peredaran darah, dan pernapasan (cardio circulo-respiratory endurance).
2.     Kesegaran gerak (motor fitness), terdiri atas komponen-komponen kesegaran jasmani ditambah dengan unsure kondisi fisik. Tambahan unsure kondisifisik ini ada perbedaan pendapat, ialah sebagai berikut: Menurut Clarke, tambahan unsur kondisi fisik itu adalah:
a.     Power (muscular power);
b.     Kelincahan (agility);
c.      Kecepatan (speed);
d.     Keseimbangan (balance).
Sedangkan menurut Baumgartner, keseimbangan tidak ada, tetapi diganti dengan kelentukan (flexibility).
3.     Kemampuan gerak umum (general motor ability), terdiri atas komponen-komponen motor fitness ditambah dengan koordinasi mata dan kaki serta koordinasi mata dan tangan.

2.     Fungsi Kesegaran Jasmani
          Sejak diciptakan-Nya, tidak dapat disangkal bahwa manusia harus terus-menerus bergerak aktif ataupun bekerja untuk kelangsungan hidup. Seseorang dapat melakukan pekerjaannya dengan baik, bila ia mempunnyai cukup kekuatan, daya tahan, keterampilan untuk melakukan pekerjaan yang dihadapinya. Di lain pihak kesempurnaan kerja faal seperti asam untuk pembakaran, pencernaan makanan, pernapasan, akan menentukan kekuatan dan daya tahan otot dalam pelaksaan suatu bentuk gerak dan kerja.
          Kesegaran jasmani mempunyai fungsi untuk menunjang kesanggupan dan kemampuan setiap manusia, yang berguna dalam mempertinggi produktivitas kerja (Anon, 1971 a; Anon 1991). Ini berarti bahwa makin tinggi status kesegaran jasmani seseorang semakin tinggi pula daya kerja orang tersebut.. hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan terhadap industri-industri di Amerika, yang menyimpulkan bahwa   pegawai-pegawai yang diberikan program latihan kesegaran jasmani ternyata menjadi pekerja yang segar, mempunyai performance yang tinggi, produktif dalam pekerjaan, mempunyai sikap yang positif terhadap sesama pekerja, kurang absen dan lebih kreatif (Bucher, 1979).
          Fungsi umum physical firness atau kesegaran jasmani ialah untuk mengembangkan kekuatan, kemampuan, kesanggupan, daya kreasi dan daya tahan setiap manusia yang berguna untuk mempertinggi daya tahan kerja dalam pembangunan dan pertahanan bangsa dan Negara (Anon, 1972).
          Physical fitness mempunyai fungsi yang berarti bagi perorangan dalam menyelesaikan tugas-tugas hidupnya, juga physical fitness berfungsi bagi seseorang dalam pengabdiannya dalam masyarakat (Mulyono, 1980).
          Kesegaran jasmani menjadi salah satu tolak ukur  fungsi faal tubuh yang ternyata mempunyai kaitan erat dengan kemapuan kerja, produktivitas maupun perasaan sehat (Suharto, 1988).
          Cooper (1982 a) menyatakan bahwa, suatu hubungan yang pasti telah ditemukan antara kesegaran jasmani dengan ketabahan mental dan kstabilan emosi. Selanjutnya melalui penelitian Cooper (1982 b) terhadap perwira-perwira Angkatan Udara Amerika dalam pendidikan, ternyata diperoleh korelasi yang tinggi antara kesegaran jasmani dan prestasi akademik, dimana perwira yang mendapat skor tertinggi dalam test kesegaran jasmani lari 12 menit juga mendapat angka terbaik dalam prestasi akademik.

B.   Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Kesegaran Jasmani
1.     Latihan Jasmani
     Untuk memperoleh dan memelihara kesegaran jasmani diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Boucher (1979) mengemukakan tujuh jalur yang harus ditempuh guna memperoleh kesegaran jasmani, yaitu:
a.     Proper Medical Care;
b.     Nutrition;
c.      Dental Service;
d.     Exercise;
e.      Statistiflying Work;
f.       Healthy Play and Recreation;
g.     Rest and Relaxation.
     Tujuh jalur yang telah dikemukakan di atas, tercakup dalam tiga unsur pembinaan kesegaran jasmani ialah:
a.     Unsur kesehatan, yang mengarahkan pada pembentukan manusia yang sehat tubuhnya.
b.     Keolahragaan, yang menekankan pada latihan olahraga dalam pengembangan potensi secara luas.
c.      Unsur rekreasi, yang bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari (Anon, 1975).

G.  METODE
          Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh penelitian dalam mengumpulkan data penelitian (Suharsimi Arikunto, 2002:136). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey tes. Langkah-langkah penelitian adalah serangkaian proses penelitian dimana penelitian yaitu merasa menghadapi masalah, dan berupaya untuk memecahkan masalah, setelah masalah ditemukan jawabannya dari lapangan, maka pada tahap selanjutnya peneliti akan mengambil keputusan yang berupa kesimpulan yang terkait dengan hasil penelitian yang ditemukan, sehingga mampu menjawab hipotesis penelitian yang diajukan. Apakah hipotesis dapat diterima atau ditolak berdasarkan hasil penelitian tersebut, kalau hasil hipotesis diterima., berarti data yang diperoleh dari lapangan setelah dianalisis menunjukan adanya dukungan yang signifikan, sebaliknya hipotesis penelitian ditolak apabila data penelitian yang diperoleh dari lapangan setelah dilakukan analisis tidak mendukung terbuktinya hipotesis penelitian yang diajukan.

H.  POPULASI
Siswa SD, SMP, SMA/SMK se Kalimantan Barat.

I.      SAMPEL
Siswa dan siswi SD, SMP, SMA DAN SMK kota Pontianak dan kabupaten Pontianak.
J.     TEMPAT PENELITIAN
a.     Tempat penelitian siswa SD, SMP, SMA/SMK se Kabupaten Pontianak di Stadiun Mpu Daeng Manambon.
b.     Tempat penelitian SD, SMP, SMA/SMK se Kota Pontianak di Stadiun Sultan Syarif. Abdurrahman.

K.  ALAT-ALAT PENELITIAN
1.     Pluit
2.     Nomor Dada
3.     Lintasan
4.     Matras
5.     Ring Full Up
6.     Stopwatch


















DAFTAR PUSTAKA

_____1972, Aerobik dalam Pembinaan kesegaran Jasmani, Dit. Jen. Pemuda dan Olahraga, Dep.P&K. R.I, Jakarta.

_____1975, kesegaran Jasmani dalam Pembangunan Bangsa Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebuadayaan R.I, Pusat Kessegaran Jasmani dan Rekreasi, Jakarta.

_____1983 a, Garis-garis Besar Haluan Negara, TAP.MPR. No. II/MPR/1988, Puataka Pelajar, Yogyakarta.

_____1982 a. Aerobik, terjemahan oleh Adiwiyoto, A: Jakarta: Gramedia.

_____1980, Fisiologi Olahraga. Yogyakarta: Yayasan STO.

Cureton, T.K. 1973, Physical Fitness and Dynamic Health, New York:          The Dial Press.

Effendi, H, 1983. Fisiologi Kerja dan Olahraga Serta Peranan Test Kerja Untuk Diagnostik, Alumni, Bandung.

Hasrul, M, dan Diatmika, G, 1984. Senam Kesegaran Jasmani Tiada Hari Tanpa Olahraga. Jakarta: Menteri Negara Pemuda dan Olahraga.

Manuaba, A, 1981. Perubahan Faal Tubuh Selama Berolahraga. Simposium Forum dan Panel Forum Kesehatan Olahraga. Yogyakarta: FK. UGM.

Rachmatullah, P, 1989. Manfaat Olahraga Bagi Kesehatan dan Kesegaran. Wahana Medik No. 3 Th.II Februari. Jakarta: hal.28-30.

Radiopoetro, 1974. Arti dan Fungsi Physical Fitness. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Olahraga Yogyakarta.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar